
Rentang perjalanan panjang seputar penelusuran seorang pemuda dalam rimba dunia digital, Internet. Satu demi satu rangkaian ingatan dikumpulkan untuk menuangkannya ke dalam sebuah tulisan. Diakui, 1 halaman tulisan ini belumlah bisa mewakili rasa kekaguman, keanehan dan penasaran yang dulu melekat pada dirinya tatkala awal kalinya berhadapan dengan portal informasi, dunia dengan segala kemudahan, dan juga dunia baru umat manusia, yakni Internet. Masih terlalu banyak hal dan pengalaman-pengalaman perdana seputar Internet lainnya. Bagaimana kali pertamanya main game gratis dengan pilihan ratusan ribu jenis game, Bagaimana sulitnya jadi member sebuah forum, komisi pertama dari bisnis online, praktek hacking perdana yang sukses tak terlacak, terima order pembuatan website,dll. Pada akhirnya, ia hanya berharap agar tulisan ini layak untuk ditengahkan ke pengguna online lainnya terutama pihak detikcom sebagai pelaksana sekaligus penilai.
A.n Andri Gunawan, singlecrew at gmail.com | Palembang, 24 Juli 2009
Upaya menuangkan kembali ringkasan sejarah pribadi mengenai My First Online Experience ke dalam sebuah tulisan, bagi saya sama halnya dengan mempublikasikan hasil sebuah pertarungan antara ketidakyakinan, keraguan dan sedikit rasa penasaran dengan kenyataan yang mesti dihadapi, dengan hasil akhir kemenangan atas kenyataan. Bagaimana tidak, dari artikel di sebuah majalah IT sekolah yang pernah saya baca mengenai berbagai manfaat Internet terkesan berlebihan, tidak lebih dari sebuah angan-angan kosong yang lahir dari pikiran manusia. Dulu, sangat jelas jelas dalam ingatan saya bagaimana kuatnya penolakan akal untuk meyakininya, sangat kontra akan Internet!. Naasnya, semua penolakan itu hanya berdasar atas logika tak berdasar, lebih jelasnya berdasarkan atas asas “Mana Mungkin?”. Ya, sangat memalukan bila diterangkan bahkan hanya sekedar diingat sekalipun. Tapi itulah prinsip yang saya pegang sebelum akhirnya benar-benar berkesempatan untuk mencoba langsung dunia baru ini, Internet.
Jauh sebelum tangan ini asyik pencet-pencet tuts Keyboard sambil utak-atik script CSS dan Javascript buat bangun homepage, kata “mana mungkin” seolah menjadi penghalang akal saya buat menerima keuntungan yang bisa dihasilkan dari pemanfaatan Internet. Mana mungkin pesan berisi undangan yang dibuat berjam-jam bisa diantarkan dengan tepat ke beberapa penerima sekaligus di lain tempat dengan akurasi terkirim 100% hanya dengan waktu paling lama 3 menit tanpa kurir? Mana mungkin saya yang kini berada di pulau Sumatera bagian Selatan bisa bercakap-cakap bahkan saling tatap dengan mereka yang berada di luar pulau Sumatera bahkan di benua yang jaraknya bermil-mil dari tempat kediaman saya? Mana mungkin untuk mengikuti beragam program edukasi semisal kuliah gratis, pelatihan programming, pengajaran seputar masalah akuntansi via video tutorial, bahkan peluang beasiswa yang datangnya dari berbagai Negara? Mana mungkin tanpa perlu membeli surat kabar atau majalah dari Negara tetangga, saya bisa membaca kabar terbaru yang terjadi di Negara tersebut? Mana mungkin dengan bermodal uang puluhan ribu rupiah saya bisa membangun toko serba otomatis, tanpa kasir dan tanpa harus takut kebakaran dan penggusuran? Mana mungkin file (music, video, dokumen dan clip art) yang kini memenuhi space Hard Disk 80 Gb saya bisa dialokasikan ke lokasi lebih aman secara virtual/online tanpa harus bayar sepeserpun? Mana mungkin saya yang kini tinggal persis di tengah kerumunan masyarakat kota Palembang bisa menjalin persahabatan dan komunikasi dengan orang lain yang kini berada nun jauh di daratan Eropa, Australia bahkan Negeri Paman Sam tanpa perlu memijakkan kaki ke sana? Mana mungkin untuk memperoleh file .mp3 dan .pdf berisi panduan instalasi dan perakitan PC hanya butuh kata kunci mengenai file yang dimaksud, tanpa bayar biaya keanggotaan? Bahkan yang agak sulit tuk dipercaya bagaimana mungkin dari beberapa layanan Internet bisa dijadikan sebagai lahan pencarian uang? Untuk yang terakhir ini masih tahap percaya atau tidak meskipun sudah beberapa kali telah menerimanya, hehe.
Anggapan-anggapan yang sekarang saya yakini keliru tersebut bukanlah tidak beralasan. Penyebabnya tidak lain minimnya pengetahuan saya tentang Internet. Bila ditanya mengenai apa itu Internet pun saya rasa sulit untuk menjabarkannya. Pengetahuan saya sebatas mengenal nama “Internet” tanpa pernah secara langsung menjajal kebenarannya. Selain mahalnya biaya pemasangan koneksi Internet untuk pemakaian pribadi, di saat itu juga keberadaan jasa akses Internet sistem sewa (Warnet) amat sukar ditemui. Disinilah pengalaman terburuk dari hasil pemikiran terburuk terjadi, dimana saya beranggapan bahwa yang namanya Internet itu ialah kotak hitam berlipat dengan layar LCD (Laptop) sedangkan Komputer itu ialah PC yang biasa ditemui di ruman-rumah, lengkap dengan printer dan speaker aktif eksternal.

Dengan mengingatnya, saya pun bisa menghindari sifat congkak dan unjuk kemampuan di depan orang lain. Biar betapa hebatnya kemampuan dan pengetahuan saya di bidang IT nantinya, toh semuanya berawal dari otak bolong? Keadaan saya pra online bisa dianalogikan sebagai pengetahuan yang dimiliki seorang anak kecil akan dasyatnya perkembangan teknologi penerbangan melalui manfaat dari pesawat terbang tanpa pernah mewujudkan impiannya untuk menaikinya! Jadi, bisa dibayangkan sendiri bagaimana sempitnya pemikiran saya mengenai Internet!
My First Online Experience, sebuah tema yang bermula tapi ujungnya tidak bertepi, bersifat abstrak. Terlebih bila diuraikan ke dalam sebuah tulisan dengan space yang amat terbatas. Dimana memorial merupakan satu-satunya sumber referensi untuk bisa dijadikan rujukan untuk merangkum tulisan. Awalnya saya pun ragu kalau-kalau nantinya tidak ada satupun ingatan yang terlintas buat melengkapi tulisan ini. Alasannya, rentang waktu berlangsungnya semua kejadian sudah terbilang lama, kurang lebih 2 tahun yang lalu. Meskipun begitu, dengan ingatan yang seadanya ditambah dan waktu buat merenung akhirnya saya pun berhasil merangkai satu demi satu rentetan ingatan menjadi sebuah kesatuan cerita, semuanya terangkum di dalam tulisan ini.
Satu hal yang menjadi sorotan utama saya sekaligus dorongan yang kian memaksa saya untuk mengacungkan 2 jempol tangan ialah bagaimana jeniusnya pihak DETIKCOM dalam mencari sebuah tema yang sama sekali tidak memberikan jalan bagi seseorang untuk menjawab “Tidak Pernah atau Tidak Ada”, pasalnya sebagaimana yang kini melanda masyarakat Indonesia, segala hal yang berkaitan dengan aktivitas online sudah pasti banyak yang memburu. Itu berarti orang yang menggandrungi Internet kian membengkak. Artinya, kuantitas sasaran DETIKCOM untuk menggelar kompetisi ajang tulis-menulis yang berorientasi pada first online experience dipastikan memiliki ratusan ribu bahkan jutaan calon peserta. Tidaklah berlebihan dalam kalkulasi kuantitas ini, semuanya berdasarkan total pengguna online aktif yang kian hari terus membengkak di seluruh penjuru tanah air. Siapa sih yang per harinya tidak buka halaman situs detik.com? Jadi, tidak semata-mata tebak-tebakan belaka. Lagipula, hanya mereka yang menderita penyakit Amnesia yang bakalan tidak kebagian tempat untuk mengikuti pergelaran kompetisi ini mengingat poin utama yang dinilai adalah kesesuaian tulisan dengan masa silam pra online. Apakah itu Anda, pengidap penyakit Amnesia? Saya harap bukan!
Perjalanan online saya tidak terlepas dari dua hal yang saling berkaitan, kemalasan dan semangat belajar. Dikala semangat sedang memuncak, entah berapa puluh situs tentang programming dan web design yang dijajal atau sekedar hang out. Lantas tatkala kemalasan akibat kejenuhan melanda maka jangankan tuk latihan mendesign homepage, untuk klik Browser saja rasanya begitu berat. Nah, disinilah peran situs-situs penyedia Hot News, dengan sajian content yang up to date serta menarik rasanya sangat tepat dijadikan cara alternatif untuk mengusir rasa malas tersebut. Bisa itu dengan membaca info mengenai perkembangan olahraga di tanah air, kasus pemboman yang sedang diusut, Debat Presiden, masalah TKI, Ekonomi, Edukasi bahkan kabar sisi gelap dari perkembangan dunia digital yang makin dasyat. Satu hal lagi yang biasanya saya jadikan senjata buat mengusir rasa malas dan cepat jenuh, yakni dengan memotivasi diri bahwa hanya dengan jalan belajarlah diri bisa terhindar dari kebodohan! Sebagaimana yang kita tahu, ujung dari kemalasan akan berakhir dengan kebodohan dan ketertinggalan. Apalagi dunia Internet yang seakan tidak pernah berhenti barang sedetikpun. Andai saja berhentinya di Indonesia, bagaimana dengan Negara lain? Sudah pasti tetap berjalan dan dinamis bukan? Untuk itu, sebelum menjajal kebenaran Internet ada baiknya kita meluruskan keyakinan kita bahwa inilah dunia baru kita, dunia dimana setiap individu secara bebas memperoleh informasi dan pengetahuan yang diperlukannya untuk berkompetisi, dunia yang menawarkan kemudahan dengan membawa beragam kemajuan pola pikir dan hidup umat manusia. Ujung dari penguasaan Internet ialah intelektualitas, kemandirian, daya saing dan kepastian untuk masa depan yang lebih cerah.
Kini, dua tahun telah berlalu. Pengetahuan saya mengenai Internet pun bisa dikatakan lumayan. Saya atau bisa juga anda secara tidak langsung merupakan satu dari jutaan pengguna aktif dunia online Indonesia. Sebuah kebanggaan tersendiri, mengingat masih banyak saudara kita se tanah air yang belum tercover akses Internet. Meskipun sudah terbilang lumayan, penasaran bercampur kekaguman akan Internet belum juga hilang sepenuhnya. Sangat sulit dibayangkan dibalik luasnya bumi dengan bentangan ujung timur ke ujung barat beserta daratan dan lautan yang dilaluinya (dalam ukuran maha luas), lahir sebuah dunia baru berukuran jauh lebih kecil yang membawa sumber daya hampir mengungguli dunia sebenarnya itu sendiri. Sebuah dunia yang tidak terbentuk secara alamiah ataupun bagian dari gugusan galaksi Bima Sakti, tapi merupakan puncak pencapaian idealis, kerja keras dan semangat yang ada dalam diri umat manusia untuk lebih baik dan lebih baik lagi. Internet, sebuah prestasi gemilang yang berhasil ditancapkan di segala penjuru bumi yang belum pernah dicapai oleh generasi-generasi sebelumnya.
Sebagaimana seorang anak manusia yang terlahir ke muka bumi dengan membawa sejuta cerita tersendiri mengenai bagaimana rasa yang ia alami tatkala kali pertamanya membuka mata tuk melihat indah dan sempurnanya hamparan bumi, begitupun bila diibaratkan dengan seseorang yang kali pertamanya berkesempatan mencoba langsung manfaat dunia barunya, digital life/Cyberspace ini. Disadari atau tidak, pastilah akan menyisakan pengalaman-pengalaman yang amat berharga dan sulit untuk dilupakan. Terasa begitu sayang bila tidak diceritakan, tapi juga merasa tidak enak bila hanya dipendam. Bohong besar bila seseorang saat awal pertama berhadapan dengan Internet langsung berevolusi menjadi seorang Webmaster Professional, Programmer, System Analyst, SEO, Internet Marketer, Hacker, atau Admin/Moderator sebuah forum dengan jumlah member lebih dari 100 juta orang. Diakui atau tidak, mereka-mereka ini dulunya juga seperti kita, terombang-ambing untuk memutuskan tempat berlabuh bahkan juga ada yang sempat tersesat di rimba belantara dunia digital ini. Dan hal itulah yang akan saya ceritakan di sini, bagaimana memalukan, menggelikan, dan menyedihkan sebuah rentetan perjalanan My First Online Experience.
My First Online Experience setidaknya kombinasi beberapa aktivitas online yang biasa saya lakukan. Meliputi Email, Blogging, Searching, Uploading and Sharing dan juga Chatting. Masing-masing aktivitas menyimpang kenangan tersendiri buat diceritakan. Oleh sebab itu, penyajiannya pun sengaja saya pisahkan satu persatu sehingga tiap aktivitas membangun sebuah cerita secara independen. Semuanya akan saya mulai dari My First Email Experience, My First Uploading and Sharing Experience, My First Chatting Experience, My First Searching Experience, dan My First Blogging Experience hingga akhirnya.
MY FIRST EMAIL EXPERIENCE
Fasilitas Internet yang satu ini benar-benar sudah menjadi bagian dari hari-hari saya. Beragam domain dan alamat email tujuan yang diberikan para customer Warnet tempat saya bekerja bila dikumpulkan dan disatukan dalam sebuah List, mungkin telah cukup memenuhi puluhan lembar buku kosong! Sekarang, boleh saja saya beranggapan bahwa tidak ada yang sukar atas kegiatan kirim-terima email ini. Selain memang pada dasarnya user and interface friendly, kegiatan kirim-terima email memang sudah salah satu rutinitas harian yang tak pernah absen. Tapi, pernahkah anda mengira bahwa saya pernah mengalami kejadian memalukan sekaligus menegangkan saat awal kali berhadapan dengan perkara email?
Ceritanya bermula dari permintaan salah seorang customer Warnet saya untuk melakukan pengiriman file berupa jawaban tugas ke salah seorang guru pembimbingnya. Perlu saya sampaikan pula bahwasanya cerita ini sangat berkaitan erat dengan sifat sok tahu sang operator pemula yang tidak ingin kebodohannya terungkap, sehingga mengakibatkan hilangnya kewibawaan di depan customernya. Untuk memenuhi permohonan ini pun, saya telah menyiapkan berbagai alas an yang lumayan masuk akal buat jaga-jaga kalau-kalau proses pengiriman gagal, yang lebih ditakutkan lagi karena tidak mengerti. Seperti sebuah skenario sinetron, kebetulan yang menyuruh tadi juga tergolong orang yang masih awam dalam urusan email. Jadi, intinya antara kami berdua sama-sama masih bingung mengenai masalah email. Padahal ia beranggapan, sebagai seorang operator warnet sudah pastinya saya telah berpengalaman dalam urusan kirim-terima email, sehingga pasti bisa membantunya.
Seperti biasa saya duduk disamping customer untuk mencoba membantu urusan online mereka. Saya langsung persilahkan ia untuk mengetikkan alamat domain emailnya, saat itu yang ia pakai adalah yahoo!mail. Saat itu, pengetahuan saya mengenai email sebatas definisi dan manfaat email. Jadi belum sempat masuk ke bahasan yang lebih detil seperti cara pembuatan akun email, cara penggunaan fitur attachment, cara mendownload file, dan cara pengiriman email. Intinya, apa yang customer itu inginkan, semuanya hal-hal yang baru saya dengar dan alami. Hanya sifat sok tahu tadi yang mengantarkan saya untuk berani menyanggupi permintaan tadi. Nah, disinilah pengalaman paling memalukan terjadi.
Setelah homepage yahoo!mail tampil, terlihat hanya ada dua kolom yang sepertinya mesti diisi. Terlihat yang satu bertuliskan YAHOO!ID dan satunya lagi bertuliskan PASSWORD. “Wah perkara mudah ni” pikir saya. Saya langsung menyarankan ke customer saya tadi untuk segera memasukkan nama lengkapnya, tanpa spasi ke kolom YAHOO!ID dan kata sandi yang ia inginkan di kolom PASSWORD. Lantas ia pun memasukkan info sebagaimana yang saya sarankan. Seingat saya, entah sudah berapa kali ia mencoba, tapi semuanya gagal/error. Saya pun hampir putus dan mengira sepertinya ada yang tidak benar dalam pengisiannya. Anggapan saya untuk menyarankan hal seperti itu ialah sebagaimana tata cara input akun di aplikasi Billing Warnet yang tiap kali meminta isian pada Username dan Password sebelum dipakai. Saya pikir cara untuk mengirim email tidak berbeda jauh dengan system kerja aplikasi Billing. Sesekali ia coba menanyakan apakah memang prosedur pengiriman email seperti ini?, tanpa ragu saya pun berikan jawaban ya, seperti inilah lazimnya pengiriman email. Ia percaya. Meski begitu dalam hati saya timbul kecemasan bagaimana seandainya saran saya memang salah, betapa malunya saya. Belum lagi bila membayangkan ekspresi wajah si customer bila ia tahu mengenai kebodohan saya. Pastilah ia akan marah besar, mengingat hampir 15 menit lebih pasca login billing, tampilan inbox emailnya pun masih belum terbuka. Saat itu, tidak ada satupun rekan kerja saya yang sedang bertugas. Semuanya (2 orang) sedang ke sekolah, dan dua jam lagi mereka baru pulang dan siap menggantikan tugas saya. Sayapun tidak mau kehilangan kontrol akibat rasa cemas begitu sangat yang sedang menguasai diri saya. Setelah dipikir-pikir ada baiknya bila saya minta ke customer hanya meninggalkan alamat email penerima sekaligus no. hp buat menghubunginya bilamana email berhasil dikirimkan. Ia mau menerima tawaran ini.
Seperti yang saya prediksikan sebelumnya, dua rekan saya baru pulang 2 jam setelah berlalunya masa menegangkan buat saya. Saya jelaskan ke mereka mengenai duduk perkaranya. Spontan mereka langsung tertawa keras sekali sambil berusaha menjelaskan prosedur pengiriman email yang benar. Diantaranya, keharusan si calon pengirim untuk meregistrasikan dirinya (Yahoo! ID dan Password terlebih dahulu sebagai langkah awal yang wajib dilakukan. Jadi, bukan hanya kata sembarangan yang akan diisi ke form login diminta, tapi benar-benar Yahoo! ID dan password login yang valid. Saya pun hanya bisa menganggukan kepala ketika memperoleh informasi ini dan langsung mencoba mempraktekannya. Proses registrasi akun Yahoo!ID berhasil saya buat setelah puluhan kali gagal. Ada yang gagal karena lupa mengisi kolom kode pos, ada juga karena lupa akan password yang dipakai, tidak memberikan jawaban atas secret answer dan yang lebih sering ialah tidak tersedianya nama alamat email yang saya pilih. Setelah yakin alamat email berhasil didaftarkan dan valid, saya langsung melaksanakan amanat si customer tadi dan berhasil 100%. Masalah terbesar dalam hal email pun teratasi. Hingga hari ini, saya masih ingat betul bagaimana ekspresi muka rekan kerja saya saat menertawakan kebodohan yang saya lakukan. Perantara kenangan inilah akhirnya saya berhasil mengingat My First Email Experience sebagai bagian dari My First Online Experience.
MY FIRST UPLOADING AND SHARING EXPERIENCE
Situs online storage plus sharing yang menawarkan kapasitas penyimpanan melebihi kemampuan hard disk biasa sangatlah mudah untuk ditemui di jagad raya Internet. Hal ini terbukti dari hasil penelusuran dua search engine terfavorit yakni Google dan Bing yang berhasil mendeteksi 75 lebih situs semacam ini. Semuanya menawarkan layanan penyimpanan online gratis dengan sebagian yang juga dilengkapi fasilitas backup dan sharing. Dengan range kapasitas penyimpanan antara 10 Gb hingga 30 Gb bahkan ada yang berani memberikan space mencapai 50 Gb lebih, dipastikan akan sangat mencukup buat kita untuk menyimpan file penting secara online. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk menjajal layanan hebat ini, seperti kapasitas maksimal yang diberikan, kecepatan proses upload & download, interface & kemudahan dalam pengoperasian, fasilitas backup dan sharing, dan yang terpenting tingkat keamanan data yang disimpan (baca enkripsi SLL).
Saat ini, terhitung 4 bulan lebih saya menikmati kelebihan dari layanan ini. Beragam kegiatan saya lakoni dengan memanfaatkan berbagai fasilitas yang dijanjikan oleh pemilik situs-situs ini. Mulai dari sekedar pengalokasian data lama PC yang berisi file-file customer warnet, upload aplikasi Freeware dan homepage template CMS (Wordpress and Blogspot) untuk pengguna internet yang lain dan juga pengiriman file berukuran besar (di atas 20 MB).
My First Upload and Online Sharing Experience diawali dengan urgensi beberapa customer warnet yang sangat sering meminta bantuan untuk pengiriman file berukuran beberapa kali lipat dari batas maksimal attachment yang diperbolehkan. File tersebut biasaya berupa file archive .rar dan .zip berisi lampiran-lampiran surat lamaran kerja setelah di scan sebelumnya. Disamping itu, pemilik warnet tempat saya bekerja juga sering menanyakan kepada saya solusi mengatasi space Hard Disk yang terbatas. Jujur, sebelum mengetahui dan menjajal layanan ini, file-file besar yang hendak dikirim via Internet biasaya kami pecah menjadi beberapa bagian dan dikirim satu persatu. Bayangkan, betapa letihnya kami hanya untuk mengirim email. Terbayang pula berapa banyak waktu yang terbuang secara percuma lantaran ukuran file yang kelewat besar dengan diperparah speed koneksi internet yang terbilang lamban. Lambat laun, lantaran pemanfaatan situs uploading and online storage membuahkan hasil terhadap efisiensi dan produktivitas layanan kami. Kami tidak dipusingkan lagi dengan masalah-masalah seputar pengiriman file dalam ukuran besar. Kami juga telah berhasil menemukan solusi buat melakukan backup dan penyimpanan seluruh file yang ada di hard disk kami, tanpa harus cemas kalau-kalau hard disk kami rusak/crach, toh isinya sudah kami alokasikan ke tempat lain. Semua pengetahuan saya ini, yakni mengenai upload and online storage plus sharing berkaitan erat dengan aktivitas online saya yang lain, download. Sebagai operator warnet, tidak jarang saya dimintai oleh para customer untuk men-download aplikasi-aplikasi berbasis GNU ataupun Freeware. Nah, dari sinilah saya mulai terbiasa dengan aktivitas download. Selanjutnya, saya pun mulai terbiasa dengan aktivitas upload. Karena kebanyakan situs yang saya datangi tidak hanya memungkinkan seseorang pengunjung untuk mendownload koleksi Freeware yang dimilikinya, tapi juga mengupload aplikasi untuk menambah koleksinya. Keterangan lengkap mengenai upload saya dapatkan dari informasi yang tersedia di halaman about us dan FAQ situs bersangkutan. Setidaknya, hanya ini yang bisa saya ingat dari My First Uploading and Online Sharing.
MY FIRST CHATTING EXPERIENCE
Istilah chatting sudah pasti sangat familiar di telinga Anda. Terlebih lagi mereka yang tiap hari menutupi telinganya dengan headset plus tambahan webcam sebagai pendukung aktivitas chat biasa, video conference bahkan online meeting. Chatting atau cara baru untuk mengobrol dengan memanfaatkan system jaringan komputer yang terhubung, saat ini dijadikan sebagai salah satu terapi penghilang stress bagi sebagian orang. Mereka berkeyakinan bahwa dengan chatting rasa letih yang begitu sangat dirasa dapat lenyap seketika tatkala terjun bebas ke portal obrol, dimana dapat berkomunikasi secara dua arah tanpa perlu beranjak dari tempat duduk. Obrolan pun tidak hanya bisa dilakukan antara dua atau tiga orang tapi bisa mencapai ratusan orang sekaligus. Chatting merupakan cara lain berkomunikasi yang kini penggunaannya tidak hanya untuk penghilang stress tapi juga sudah menjelma menjadi fasilitas bisnis. Berbagai situs-situs niaga online entah berskala besar ataupun kecil lazimnya pasti menyisipkan fasilitas chat di homepage officialnya. Tujuannya, tidak lain untuk menambah kesan profesionalitas perusahaan yang dikembangkan dengan menyediakan kemudahan bagi para pengunjung dan consumer.
Dua aplikasi chat yang kini bertengger di atas dalam hal pengguna terbanyak, yakni Yahoo!Messanger dan Mirc. Bila yahoo!messanger banyak dipakai untuk keperluan bisnis dan niaga, maka aplikasi mIRC lebih banyak dipakai oleh para remaja untuk menjalin persahabatan. Perbedaannya sangat kontras memang, tapi inilah fakta yang terjadi di luar sesungguhnya. Saya sendiri bisa dikatakan menjadi pengguna langgeng untuk penikmat kedua aplikasi ini, hingga saat ini.
My First Chatting Experience berbarengan dengan kian suburnya keberadaan warnet di kota kami, Palembang. Di kota kami, warnet merupakan satu-satunya jalan untuk mencoba layanan ini. Pasalnya dulu biaya pemasangan akses internet untuk keperluan pribadi masih terbilang tinggi dan langka. Tidak sembarang orang bisa memiliki akses internet. Kondisi beberapa tahun yang lalu sangatlah berbeda dengan yang terjadi saat ini. Dimana seseorang dengan mudahnya menghubungkan PC rumah di kamarnya dengan akses internet tanpa perlu memikirkan biaya bulanan yang maha mahal. Belum lagi keberadaan smartphone dengan akses internet berbagai tipe jaringan terbuilt-in di dalamnya dan berbagai perangkat mobile lainnya yang sanggup memberikan layanan lebih dalam urusan koneksi Internet. Hal inilah yang menjadikan, kian hari kian membengkak pengguna internet terlebih pengguna layanan chat. Bila dulu dalam satu room hanya terdapat 3-10 orang, kini total orang yang tergabung dalam satu room saja bisa mencapai di atas 20 orang. Kenaikan yang saya anggap cukup signifikan dan sedikit mencengangkan. Setelah diselidiki ternyata pemicu utamanya ialah gencarnya persaingan di antara para operator dan ISP dalam menguasai segmen pasar konsumen layanan Internet di tanah air, sehingga satu dari beberapa kebijakan bisnisnya berupa penurunan biaya dan memudahkan prosedur pemasangan akses internet.
Ada hal yang lucu saat saya baru kali pertamanya mencicipi layanan mengasyikkan ini. Sebagaimana anda saat awal kali menggunakan layanan ini, saya pun begitu antusias dan larut dalam rasa takjub dan penasaran untuk terus dan terus menjajalnya. Saking antusiasnya, hampir selama jam kerja saya habiskan untuk kegiatan chatting. Saya telusuri dan join dari satu room hingga room lainnya. Anehnya, tidak ada rasa letih sedikitpun. Sebaliknya, seperti terkena candu saya pun terus-terusan menghabiskan waktu untuk chat dengan mereka yang kebetulan berada di kota yang sama, berlainan kota bahkan pernah berlainan Negara seperti Turki, Republik Islam Iran, Australia, Singapura dan pernah sekali di Nigeria. Saya juga bingung dan merenung apa yang saya dapatkan dari kegiatan ini, kok bisa saya begitu mati-matian menjajalnya tanpa rasa bosan sedikitpun. Chatting benar-benar candu yang amat hebat efeknya buat pengguna Internet. Padahal yang biasa saya lakukan hanya sekedar memberikan sapa seperti hi, hello atau juga saling tukar-menukar ID friendster. Entahlah, pengaruh chatting benar-benar sangat dasyat terhadap diri saya dulu. Tapi, sudah sifat dasar manusia yang selalu bosan bila melakukan hal secara terus-menerus, begitupula dengan saya, rasa kejenuhan dan kebosanan akhirnya melepaskan saya akan kebiasan chatting berlebihan. Perlahan saya mulai bisa membagi waktu kapan untuk belajar dan kapan untuk chatting. Porsi yang terlalu besar untuk kegiatan chatting hanya akan mengakibatkan kerugian dan penyesalan. Itulah trik jitu yang berhasil melepaskan pengaruh chatting dari rangkaian hari-hari online saya. Sekarang, layanan chatting hanya saya pergunakan untuk memelihara tali silaturahmi dengan teman-teman lama dan keperluan bisnis online. Dengan begitu, waktu online saya pun kini jauh lebih bermanfaat. Suatu hal yang patut disyukuri, mengingat masih banyak saudara-saudara saya di lain tempat yang kini masih terjebak dalam pola hidup hedonis. Larut dalam kenikamatan sementara, membuang waktu yang ada secara percuma! Jadi, dalam hal ini saya cantumkan penilaian saya mengenai chatting dari sisi positif dan negatifnya.
MY FIRST SEARCHING EXPERIENCE
Benarkah Internet gudangnya beragam informasi? Akses internet mampu menghasilkan akses seluruh berita yang tersedia di segala media berita global? Pencarian informasi di Internet hanya membutuhkan waktu sekitar 0.01 second per keyword? Dan beragam kecepatan perolehan informasi lainnya bisa didapat dengan pengoptimalan penggunaan internet? Waw, benarkah sehebat itu? Pertanyaan ini lumayan lama menghuni pikiran saya. Namun, belum juga punya kesempatan untuk menguji kebenarannya. Nah, baru setelah ada tawaran untuk menjadi operator di sebuah warnet di kota Palembang kesempatan itupun akhirnya datang juga. Sulit menggambarkan kegembiraan yang saya alami ketika awal kali mewujudkan impian untuk menjajal satu dari sekian banyak fitur Internet, yakni akses WWW (World Wide Web). Seingat saya, hanya ada beberapa nama yang menjadi media saya untuk melakukan penelusuran beragam informasi di Internet. Google, Yahoo, Lycos dan beberapa nama yang kurang familiar di telinga sangat membantu saya untuk meyakini kebenaran itu.
Mulanya, My First Searching Experience saya isi dengan pencarian berbagai informasi mengenai tugas-tugas sekolah, tidak lebih! Mulai dari ulasan materi pelajaran Akuntansi, Fisika, Geografi dan juga Bahasa Indonesia. Dari sini saya benar-benar takjub menyaksikan kemampuan search engine dalam memberikan hasil penelusuran informasi yang memang saat itu saya perlukan. Beberapa keyword yang paling sering saya pergunakan saat itu; keterangan 7 keajaiban dunia, tokoh penting pengubah dunia, Indonesia di antara dunia, gelombang tsunami, info universitas favorit, beasiswa gratis, dan macam-macam majas. Belum pernah terlintas sebelumnya bahwa hanya bermodal keyword yang hendak dicari ditambah sedikit kesabaran untuk melakukan penelusuan dari satu halaman web ke halaman web lain, berapapun soal tugas sekolah bisa terjawab. Hanya memanfaatkan fasilitas pencarian online ini.
Mesti sudah lama berlalu, masih ada beberapa kebiasaan saya dalam memanfaatkan search engine, mengetahui informasi terbaru yang kini berkembang misalnya. Dari sini saya temui beragam situs-situs terpercaya dalam penyediaan berita-berita terbaru seputar nasional bahkan Internasional. Dari sekian banyaknya situs-situs yang saya maksud, detik.com menjadi prioritas pencarian berita. Hal ini bukanlah beralasan, pasalnya detik.com saya nilai memiliki kelebihan dalam hal kecepatan pempublikasian berita. Selain itu, alasan lain yang mendasari saya untuk menjadikan detik.com sebagai bacaan wajib saat online ialah kelengkapan berita. Beragam informasi disuguhkan dengan cepat dan menarik untuk dibaca. Perlu pula diketahui, pengetahuan saya mengenai situs detik.com juga berawal dari penelusuan menggunakan search engine yang pada akhirnya menghasilkan report situs detik.com. Selanjutnya, saya pastikan bahwa homepage detik.com termasuk salah satu halaman situs yang ter-bookmark di PC Warnet saya. Jadi, melalui search engine perjalanan online seputar My First Searching Experience pun sangat berkesan!
MY FIRST BLOGGING EXPERIENCE
Awalnya sempat salah pengertian mengenai apa itu blog. Istilah blog pertama kali saya dengar dari rekan saya yang tinggal di kota Padang. Di saat orang-orang sedang sibuk mempercantik tampilan friendster dan memperbanyak jumlah teman di komunitas social networking, ia malah mengaku bahwa sedang sibuk memperbanyak content blog. Tidaklah aneh bila sebagian besar orang masih terbilang asing dengan dunia blogging. Pasalnya, di buku IT sebagai pegangan siswa di sekolah-sekolah pun yang dibahas sebatas apa itu WWW dan Website, sama sekali tidak mengulas masalah blogging. Jadi terbilang wajar bila deretan pertanyaan seputar fakta blogging saat ini sangat sering dipertanyakan. Apa benar aktivitas blogging hanya diperuntukkan bagi mereka yang bergelut dalam dunia jurnalis? Apa benar dengan blogging seseorang turut andil dalam mencerdaskan bangsa? Apa benar ratusan orang menjadi kaya raya per jamnya lantaran ber-blogging ria di jagad raya Internet? Dan Apa benar blogging dapat dilakukan tanpa bayar biaya apapun sebagaimana website?
Untuk menemukan jawaban atas itu semua, entah berapa ratus situs telah saya telusuri, dan entah berapa banyak buku dan artikel majalah tentang blog saya baca. Keinginan saya kian menjadi ketika demam blogging melanda teman-teman saya. Tidak mau dikatakan gaptek, saya pun memutuskan untuk mempelajari lebih jauh tentang blogging. Setelah memperoleh berbagai info tentang cara memulai aktivitas blogging, akhirnya saya pun mulai menyukai aktivitas online yang satu ini sekaligus mulai membangun dan memelihara halaman blog tersendiri. Saat itu, saya lebih tertarik untuk menggunakan layanan blog gratis dari blogger.com ketimbang wordpress ataupun multiply. Selain alasan kemudahan penggunaan, blogger.com juga memiliki pengguna yang cukup besar dan tutorial/panduan blogging yang sangat banyak dijumpai di Internet. Halaman blog yang paling perdana saya bangun beralamatkan di http://materischools.blogspot.com. (Status : inactive, guna menghindari promosi blogsite)
Terbayang betapa sulitnya untuk memahami lebih dalam aktivitas blogging. Bagi saya pribadi, blogging tidak lain merupakan ekspresi diri manusia melalui kolaborasi ilmu. Bayangkan, untuk mampu menyajikan tulisan yang enak dibaca, setidaknya sang blogger harus memiliki wawasan yang luas tentang tata cara penulisan, minimal kaedah menulis dalam bahasa Indonesia. Belum lagi bila disinggung tentang ilmu pemrograman dan design web seperti bahasa pemrograman php, manajemen database seperti mysql dan design web melalui aplikasi Adobe Photoshop ataupun Adobe Dreamweaver. Intinya, blogging benar-benar aktivitas penuh manfaat, salah besar bila menyebut aktivitas blogging hanyalah kegiatan tidak berguna yang hanya menghasilkan keletihan semata.
Masih segar di pikiran saya bagaimana semangatnya saya ketika awal kalo memulai aktivitas blogging. Bahasa pemrogaman web standar seperti HTML/XHTML, CSS dan dasar Javascript begitu antusias saya pelajari. Puluhan ebook berisi ulasan panduan bahasa pemrogaman web pun saya download. Dari sini semua lah pengetahuan mengenai bagaimana memulai, memelihara dan mempercantik blog saya dapatkan, disamping dari Tanya sana-sini dengan sesame blogger pengguna domain blogspot.com. Apakah perjalanan untuk memulai aktivitas blogging semulus itu? Yang pasti tidak, beberapa kali saya sempat vacuum lantaran perasaan jenuh dan malas yang kadangkala datang. Maklum saja, sebagai operator warnet sudah pastinya kebebasan saya untuk menggunakan layanan Internet di warnet lumayan terbatas. Seperti bila ada kerusakan pada jaringan komputer atau memang sedang ada masalah pada server ISP yang kami pakai, otomatis kegiatan berbagi post lewat blog yang saya miliki turut terhenti. Memang, masalah seperti ini tidak hanya saya saja yang mengalami, hamper seluruh blogger di seluruh penjuru dunia pun pasti juga pernah mengalaminya.
2 tahun sudah aktivitas blogging saya lakoni. Puluhan berita penting dan menarik pun telah berhasil terpublish dengan sukses lewat blog saya. Contentnya pun beragam. Ada blog yang saya bangun khusus untuk menyediakan informasi seputar masalah komputer dan cara penanganannya, trik blogging, ebook pelajaran sekolah SD hingga Universitas, aplikasi Freeware siap download hingga info mengenai peluang bisnis online. Bocoran sedikit, belum lama ini saya baru saja meluncurkan situs baru yang khusus melayani pemesanan game-game online dan LAN. Perkembangannya pun cukup menjanjikan. Ini menjadi bukti buat saya bahwa dengan membiasakan diri untuk ambil bagian dari demam blogging memanglah keputusan yang tepat. Ilmu, Teman, Pengalaman dan Uang bisa didapatkan sekaligus dengan mudah! Semua yang saya peroleh saat ini tidak terlepas dari My First Blogging Experience yang penuh dengan rasa penasaran bercampur kejenuhan untuk memulai. Padahal, bila kita nikmati dan dilakoni dengan sungguh-sungguh rasa jenuh itu pun dapat dengan mudah lenyap sebagaimana datangnya yang juga tiba-tiba. Jadi, lanjutkan aktivitas blogging anda!
Keseluruhan My First Online Experience saya tuangkan dalam sebuah puisi!
My First Online Experience dibalik Jeruji Sesal
By Andri Gunawan
Special Gift for DetikCom
Parit sejarah pun kini telah terbentang
Jauh, dan sulit untuk dikejar
Sebuah awal yang meluruskan masa ke depan
Nyanyian rindu dan penyesalan kian terbayang
Sungguh, betapa kejamnya waktu
Dan sungguh, betapa kejamnya aku
Kulalui waktu hanya untuk bersenang-senang
Kuisi waktu silamku hanya dengan tawa
Lihatlah sekarang, aku tidak lebih seekor belalang tua
Renta dan tiada berdaya
Inilah aku, betapa sering kuhabiskan masaku untuk bersenang
Gaming, chatting, cracking begitu sering menguasaiku
Cobalah semuanya kuluruskan
Cobalah semuanya bisa kutundukkan
Pastilah aku jauh lebih berguna
Menjadi seekor elang ketimbang belalang…
Syukurlah, puluhan blog kini telah berjaya
Menjadi saksi ketekunanku selama ini
Ide tlah bisa ditulis. Sungguh ketekunanlah menjadi kunci
Di dunia, terlebih di sini…
Dunia baru kita semua, Internet!

Penulis hanyalah remaja berusia 19 tahun yang kesehariannya disibukkan dengan berbagai permasalahan sistem dan jaringan komputer. Jangan terlalu jauh berpikiran bahwa penulis berprofesi sebagai IT Officer, Network Administrator, Professional Programmer ataupun IT Consultant. Penulis tidak lebih dari seorang Operator Warnet yang pengalaman online pertamanya didapat dari PC Warnet tempat ia kerja. Satu keinginan yang lumayan sulit diwujudkan olehnya ialah bagaimana penulis bisa menelusuri halaman demi halaman web tanpa melalui pc warnet majikannya!
Download dalam format PDF dan DOCX
Tulisan Saya Versi TLD (Top Level Domain), .com